SELAMAT DATANG, SUGENG RAWOEH DI BLOGK PETERNAKAN KAMBING GUNUNG PEGAT FARMS

Senin, 19 September 2011

PAKAN UNTUK ANAK PRA SAPIH DAN KESEHATAN INDUK KAMBING

MANAGEMENT PENGELOLAAN PAKAN PADA ANAK PRA SAPIH
Anak kambing biasanya mulai mengkonsumsi pakan padat berupa hijauan ataupun konsentrat pada umur 2-3 minggu. Konsumsi pakan padat pada usia tersebut sangat berguna untuk merangsang perkembangan saluran cerna agar segera mampu mengkonsumsi pakan pada dalam jumlah banyak sebagaimana layknya ternak ruminansia. Pemberian konsentrat akan memacu pertumbuhan bobot badan lebih tinggi, sehingga dapat disapih pada usia lebih dini saat telah mencapai bobot sapih. Bobot sapih biasanya ditentukan seberat 2,5 x bobot lahir, namun tergantung kepada kondisi tubuh. Anak kambing masa pra-sapih (0-3 bulan) membutuhkan perawatan intensif untuk mencegah kematian dan merangsang pertumbuhan
 Manajemen Kesehatan Induk
Setelah melahirkan biasanya terdapat bercak darah disekitar vulva dan hal ini dapat terjadi sampai 2-3 minggu setelah melahirkan. Dalam keadaan normal bercak atau cairan tersebut akan semakin bersih dan bening seiring dengan berjalannya waktu. Namun, apabila cairan tersebut tidak berhenti dan tetap berwarna serta volumenya cenderung meningkat disertai dengan bau yang tajam, maka perlu dicurigai adanya infeksi pasca melahirkan dan perlu diberikan antibiotika seperti penicillin. Kandang dan ternak perlu dibersihkan dari berbagai jenis parasit untuk mencegah scabies maupun kutu yang dapat menggangu kesehatan dan menurunkan produktivitas 
 Sumber ; lolit sumut



 

Minggu, 11 September 2011

MANAJEMEN KESEHATAN ANAK KAMBING PRA SAPIH

Kesehatan Anak Pra Sapih
Studi Kasus
Angka kematian anak pra-sapih merupakan salah satu sumber kerugian yang penting dalam usaha produksi kambing. Tidak jarang angka kematian mencapai 30-40% apabila usaha produksi tidak dikelola dengan baik. Kematian umumnya disebabkan terutama oleh penyakit yang muncul akibat manajemen yang buruk. Angka kematian anak sekitar 5-10 % dapat dianggap sangat baik untuk suatu usaha produksi yang baik.
Pada Tabel 1 dipaparkan suatu kasus sebaran penyakit yang meyebebkan kematian pada anak kambing umur 0-3 bulan disuatu peternakan. Dari data tersebut dapat dilihat bahwa terdapat dua jenis penyakit yang paling banyak menyebebkan kematian anak kambing pra-sapih yaitu pneumonia dan koksidiosis, yaitu keduanya menyebabkan kematian 64,7% dari total kematian. Jika Enteritis dianggap sebagai indikasi Koksidiosis dan Cachexia merupakan konskuensi logis sebelum kematian maka total kontribusi kematian dari penyakit tersebut adalah 79,3%.

Tabel 1. Beberapa penyakit penyebab kematian anak kambing umur 0- 3 bulan Penyebab kematian Jumlah anak mati (ekor) Tingkat kematian (%)
Pneumonia 54 32,6
Koksidiosis 53 32,1
Enteritis/Mencret 9 5,5
Cachexia 15 9,1
Infeksi puerperal* 15 9,1
Kematian saat lahir/Neonatal mortality** 10 6,1
Lain-lain*** 9 5,5
Total 165 100
*Termasuk: Septicaema (8), E. coli (3), myocarditis (1), pericarditis (1), arthritis (1), pyogenik bakteri embolisma (1)
**Termasuk: mati lahir (4), lahir lemah (5), hypothermia (1)
***Termasuk: Cerebrotical necrosis (1), defisiensi vitamin E/Selenium (1), ataxia (1), renal dysplasia (1)
Sumber: Donkin dan Boyazoglu (2004).
Pneumonia
Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai bacteria maupun virus, bahkan parasit (parasit paru) serta akibat reaksi alergik. Penyakit ini sangat mudah terjadi pada anak kambing pra-sapih yang tidak mendapat cukup kolostrum saat dilahirkan atau dipelihara dalam kandang dengan kepadatan tinggi. Penyakit ini mudah timbul pada anak kambing pada umur sangat muda (<35 hari) ataupun pada umur 2-3 bulan. Istilah umum pneumonia digunakan untuk menjelaskan gangguan paru baik akibat infeksi bakteri maupun virus dan parasit juga akibat sebab lain yang mengakibatkan pembengkakan paru (inflamasi). Pneumonia dapat bersifat akut (menyebabkan sakit dan kematian dalam beberapa jam) maupun kronik. Penyakit ini sering dipicu oleh cekaman, misalnya akibat ventilasi yang kurang baik sehingga humiditas (kelembaban) didalam kandang tinggi.
Gejala terserang pneumonia adalah nafsu makan hilang, batuk berulang, demam, sulit bernafas, keluar cairan dari lubang hidung. Pada kasus yang berat ternak bernafas melalui mulut yang membuka. Jika sampai mengalami sakit di paru, ternak menunjukan tanda dengan selalu berdiam (tidak aktif bergerak).
Pengobatan dapat dilakukan dengan suntikan antibiotik atau preparat sulfa intravena atau intra muscular (otot) sesuai petunjuk produser obat. Pencegahan dilakukan dengan mengurangi kepadatan kandang, mengurangi kelembaban kandang, membuat kandang tetap kering dan bersih. Lakukan perbaikan ventilasi kandang, tingkatkan kebersihan dan kurangi kepadatan kandang serta pastikan tersedia dan terjangkau pakan yang segar dan air minum yang bersih didalam kandang.
Koksidiosis
Penyakit koksidiosis disebabkan oleh parasit koksidia didalam saluran cerna (usus). Kondisi stress akibat kepadatan kandang yang terlalu tinggi, kelembaban tinggi dan kandang kotor memacu timbulnya koksidiosis. Koksidiosis juga mendiring timbulnya penyakit lain seperti pneumonia. Kombinasi koksidiosis dengan pneumonia sering berdampak fatal. yang menyebabkan diarea disertai bercak darah.
Gejala koksidiosis ditandai dengan turunnya nafsu makan, kotoran cair (mencret) dan berwarna kehitaman dengan disertai bercak darah, berlendir, bobot badan turun dan bulu serta kulit terlihat kasar dan kering. Anak kambing pra-sapih umur 3-4 minggu sangat peka terhadap gangguan koksidia. Jika koksidiosis terjadi mewabah disuatu kandang atau peternakan kambing perlakuan terbaik yang dapat dilakukan adalah dengan sanitasi kandang dan isolasi ternak yang terserang koksi. Kambing yang selamat dari wabah koksi biasanya telah memiliki kekebalaqn.
Pengobatan dilakukan dengan pemberian antibiotika. Obat sulfa sangat efektif untuk mengendalikan koksi. Obat sulfa dapat diberikan selama 4 hari berturut-turut atau sesuai dengan petunjuk. Produser obat. Namun, pengobatan biasanya kurang efektif apabila tidak disertai dengan sanitasi yang baik, pengurangan kepadatan kandang dan memisahkan anak kambing dari kambing yang lebih dewasa.
Diarea/Mencret
Diarea atau mencret merupakan indikasi adanya gangguan pada saluran cerna akibat bebagai penyebab baik penyakit seperi koksidiosis maupun gangguan metabolism pakan atau kombinasi keduanya. Tanda diarea adalah feses atau kotoran yang encer dan berwarna hijau muda atau hijau tua, atau hijau kemerahan atau kuning kehijauan serta ternak terlihat lemah. Penanganan diarea adalah sbb:
• Isolasi ternak yang terserang mencret dan cek kondisi dan warna serta keenceran feses, frekuensi buang kotoran. Dengan mengetahui perubahan kondisi feses/kotoran, maka ternak lain didalam kandang yang mungkin mengalami hal yang sama dapat diidentifikasi
• Jika diarea sangat parah dan kondisi ternak memburuk langsung diberi antibiotic.
• Sangat penting bagi ternak untuk mendapatkan cairan. Oleh karena itu, paksa ternak mengkonsumsi larutan garam dan gula yang dibuat dengan mencampur 1 sendok the (10 g) garam dan 1 sendok the (10 g) gula dalam 2,5 liter air dingin yang telah dimasak. Oralit dapat ditambahkan kedalam larutan, lalu berikan larutan tersebut sebanyak 1/6 dari bobot tubuhnya.
SUMBER ; lolit sumbar

Rabu, 24 Agustus 2011

PAKAN DAN MINUM UNTUK INDUK MENYUSUI


MANAGEMENT PAKAN INDUK MENYUSUI
Selama menyusui (1-6 minggu setelah melahirkan) kebutuhan induk akan zat nutrisi sangat tinggi, karena dibutuhkan untuk memproduksi air susu bagi anaknya. Selama masa menyususi selain pakan hijauan perlu diberikan pakan konsentrat. Hijauan diberikan secara tidak terbatas, kurang lebih 20% dari bobot tubuhnya. Gunakan jenis hijauan yang berkualitas baik yaitu berumur muda dengan porsi daun yang banyak. Hijauan diberikan paling tidak 2 x dalam sehari. Konsentrat diberikan sebanyak 200-300 g per ekor per hari.
Komposisi konsentrat tergantung kepada bahan yang tersedia di lokasi. Beberapa bahan yang umum digunakan adalah dedak padi (20-30%), bungkil kelapa (15-20%), ampas singkong (10-15%), tepung gaplek (10-20%), ampas tahu (tidak terbatas). Bahan tersebut dicampur menjadi satu campuran pakan konsentrat dan diberikan pada pagi hari. Daun tanaman leguminosa seperti Lamtoro, Gliricidia, Indigofera, Kaliandra sangat baik diberikan pada induk selama menyususi untuk merangsang produksi susu. Daun leguminosa ini dapat diberikan tidak terbatas tergantung ketersediaan dilapang. Daun leguminosa seperti Indigofera sp sangat baik diberikan kepada induk sedang menysusui agar produksi susu meningkat Kepada induk laktasi sebaiknya diberikan mineral dalam bentuk blok yang disebut mineral blok, karena kebutuhan induk menyususi akan mineral meningkat dan sering tidak dapat dipenuhi dari bahan makan yang dikonsumsi.
AIR MINUM BAGI INDUK MENYUSUI
Induk yang sedang menysusui sangat membutuhkan air minum dalam jumlah cukup setiap hari. Air minum sangat penting untuk menjamin berlangsungnya proses metabolisme didalam tubuh, mengatur suhu tubuh dan untuk memproduksi susu. Kebutuhan air minum seekor kambing kurang lebih 1,5 – 2,5 liter per hari. Ternak mendapat asupan air dari makanan, terutama hijauan yang dikonsumsi, namun jumlah ini tidak mencukupi kebutuhan, terutama didaerah panas atau jika ternak digembalakan setiap hari. Oleh karena itu, air minum harus tersedia didalam kandang setiap saat.
Air minum harus selalu bersih dan hindari terkontaminasi oleh air kencing/urin ataupun kotoran, karena air minum yang telah terkontaminasi biasanya tidak dikonsumsi ternak. Ganti air minum setiap hari atau bila terlihat sudah keruh. Kambing membutuhkan air minum setiap saat dalam jumlah yang cukup dan harus tersedia didalam kandang. sumber: lolit sumut.

Jumat, 19 Agustus 2011

PENANGANAN KELAHIRAN PADA KAMBING



PENANGANAN PASCA KELAHIRAN.
Hal penting yang perlu dilakukan adalah tindak agar terjalin hubungan induk-anak secara maksimal. Tindakan induk yang membersihkan seluruh tubuh anak dengan menjilat merupakan cara paling efektif menciptakan hubungan induk-anak yang baik pada waktu selanjutnya. Hubungan ini dapat mempengaruhi ketersediaan/akses air susu induk untuk anak yang baru dilahirkan. Seekor induk dapat menunjukan penolakan terhadap anaknya apabila hubungan ini tidak terbentuk sejak awal.
Apabila induk menolak membersihkan anak yang lahir sebaiknya diberi bantuan dengan membaringkan anak didekat hidung induknya agar induk dapat membersihkan anaknya dengan menjilat sekujur tubuh. Apabila induk menolak membersihkan tubuh anaknya bersihkan seluruh tubuh anak dengan kain kering dan berswih dan bersihkan bagian kepala dan hidung agar anak dapat bernafas dengan lancar. Apabila anak tidak menunjukan gerakan bernafas secara normal lakukan bantuan dengan mencoba menempelkan jerani halus atau rumput kering kedalam rongga hidung untuk merangsang anak bernafas. Selanjutnya anak dapat diangkat dengan menarik kaki bagian belakang keatas sambil meremas sekujur badan dengan lembut.
Setelah proses kelahir berjalan dengan baik, maka tali pusar biasanya terputus pada saat induk berdiri. Untuk mencegah infeksi talipusar diolesi larutan iodine. Pemotongan tali pusar anal dapat meyebabkan pendarahan apabila pemotongan terlalu panajng. Disarankan pemotongan dilakukan dengan gunting yang bersih sepanjang 5-7 cm lalu diolesi dengan larutan iodium untuk mencegah infeksi. Tali pusar dapat dibiarkan terpotong sendiri.
Induk dan anak dapat ditempatkan pada kandang beranak portable ( 1,0 x 1,0 m) selama seminggu atau induk dikelompokan dalam kandang beranak. Pengelompokan induk dilakukan berdasarkan keseragaman bobot dan besaran anak. Besaran kelompok bervariasi dan tergantung skala usaha. Disarankan untuk membentuk 10-15 induk per kelompok pada usaha yang intensif.
Ringkasan langkah yang perlu diperhatian penanganan segera setelah melahirkan adalah sbb:
• Setelah melahirkan biarkan induk menjilat anak untuk membangun hubungan (kontak) induk-anak, sehingga induk akan mau merawat anak dengan baik dan untuk membersihkan dan mengeringkan tubuh anak dari cairan yang melekat agar dapat bernafas secara normal
• Pembersihan dapat dibantu menggunakan kain yang bersih
• Anak yang normal akan mampu berdiri dan menyusu dalam waktu 1 jam setelah dilahirkan.
• Pastikan bahwa anak segera menyusui induk dalam 4 jam pertama setelah melahirkan.
• Anak yang menyusui induk dalam kurun waktu 4 jam pertama setelah melahirkan akan mendapat kolostrum yang akan menguatkan daya tahan anak terhadap serangan penyakit.
• Apabila anak yang baru lahir lemah sehingga tidak mampu mennyusu, perlu dibantu menyusukan ke induk atau gunakan botol susu atau tabung alat suntik (tanapa jarum) berisi kolostrum yang diperah dari induknya. Induk yang baik membersihkan seluruh tubuh terutama dibagian kepala dan mulut/hidung agar anak dapat bernafas dengan normal.