Betjak Photography
Apa pula itu?
Betjak Photography is photos taken from man-powered mobile vehicle, ENDONESIYA.
Jadi, kira-kira, foto yang dijepret sambil naik becak.
Hasilnya yang dari Blitar:


Apa pula itu?
Betjak Photography is photos taken from man-powered mobile vehicle, ENDONESIYA.
Jadi, kira-kira, foto yang dijepret sambil naik becak.
Hasilnya yang dari Blitar:



Wali Kota Djarot Saiful Hidayat masuk dalam 10 tokoh 2008 pilihan Majalah TEMPO. Ini tentu saja membanggakan bagi Djarot. Itu sebabnya, dia memasang beberapa spanduk soal "prestasi"-nya itu di pinggir-pinggir jalanan Kota Blitar.
Alasan TEMPO memilih dia karena beberapa hal dalam berita terlampir. Bagi anda warga Kota Blitar, para penyaksi kepemimpinannya selama dua periode ini, silakan berkomentar.
Selain Djarot, TEMPO juga menobatkan Bupati Sragen UNTUNG SARONO WIYONO SUKARNO sebagai 10 Tokoh 2008. Dari Jakarta, ada warga Sragen bernama Guntoro Suwarno yang meledek TEMPO ketipu karena memilih Bupati Untung. Soalnya, kata Guntoro, Untung punya banyak cacat. Mulai dari kasus judi, kolusi, hingga melarang warganya unjuk rasa. Untung dan Djarot sama-sama orang PDI Perjuangan.
Jadi, apa kesaksian Anda soal kepemimpinan Djarot?
TEMPO edisi 44/XXXVII 22 Desember 2008
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2008/12/22/LU/mbm.20081222.LU129064.id.html
DJAROT SAIFUL HIDAYAT, WALI KOTA BLITAR Dengan Belimbing dan Kendang Jimbe
Di tangannya, birokrasi Kota Blitar jadi ramping. industri kecil diproteksi, mal tak boleh masuk.
DJAROT Saiful Hidayat tak segan tampil beda di tengah zaman yang ditandai dengan gedung mentereng dan lampu sorot. Wali Kota Blitar ini menolak pembangunan mal mewah dan membatasi minimarket. Pedagang kaki lima diberi tempat leluasa. ”Saya bangga, kota saya dipenuhi pedagang kaki lima,” katanya.
Tentu saja, pedagang kaki lima di Blitar tak semrawut seperti cendol tumpah. Djarot menata 1.000-an pedagang kaki lima yang tadinya membikin kumuh kompleks alun-alun kota. ”Lumayan, satu kaki lima menyerap paling sedikit tiga orang tenaga kerja,” katanya. Djarot yakin, ini potensi perekonomian yang tak kalah dibanding pembangunan mal.
Pada 2000, di awal masa jabatannya, alun-alun itu dibenahi. Taman dikembalikan fungsinya. Tak jauh dari alun-alun dibangun kompleks untuk pedagang kaki lima. ”Saya bilang, sampeyan boleh jualan tapi harus bersih,” kata pria 46 tahun ini.
Walhasil, semua orang tersenyum. Pedagang kaki lima girang karena mendapat lokasi yang nyaman. Anak-anak riang bermain di taman. Djarot pun senang menikmati udara, bersepeda ontel, lalu membeli jajanan di warung kaki lima. Alun-alun kembali menjadi milik publik.
Sambil menyeruput kopi jahe buatan sang istri, Happy Farida, 39 tahun, Djarot mengisahkan kesibukannya memimpin warga kota kelahiran Soekarno, Presiden RI pertama.
Sebagai wali kota, urusan Djarot tentu bukan cuma alun-alun. Begitu menjabat delapan tahun lalu, mantan dosen di Universitas 17 Agustus Surabaya ini segera memusatkan perhatian pada birokrasi. Struktur organisasi yang gemuk, tumpang-tindih, telah membuat pemerintahan bergerak laksana gajah tua. ”Ini ndak bisa dibiarkan,” katanya.
Pedang pun diayunkan. Djarot tak memperpanjang usia pensiun pejabat. Posisi tak efektif yang kosong ditinggal pensiun dibiarkan tak terisi. Hasilnya, hampir sembilan tahun, 300 posisi di birokrasi telah dipangkas.
Rekrutmen pegawai ditangani serius. Djarot menggandeng Universitas Airlangga, Surabaya. ”Saya percaya, untuk mendapat birokrat berkualitas, harus dimulai dari rekrutmen.”
Maka, dua pekan lalu, proses seleksi berjalan tanpa campur tangan pemerintah kota. Semuanya dipasrahkan kepada tim Universitas Airlangga. ”Saya melarang staf saya masuk,” katanya.
Budaya birokrasi juga dibereskan. ”Birokrat itu pelayan masyarakat, tapi nyatanya justru birokrat yang sering minta dilayani,” katanya. Bersama berbagai lapisan masyarakat, Pemerintah Kota Blitar menyusun Citizen’s Charter, kontrak pelayanan. Di sini, berbagai hal disepakati bersama dan dituangkan dalam kontrak.
Adalah Puskesmas Bendo, Kecamatan Kepanjen Kidul, yang dijadikan proyek percontohan pada 2005. Kontrak yang dibuat di sana antara lain jadwal pelayanan, waktu antre, dan standar ruang pelayanan. ”Senyum dan tata cara menerima telepon juga masuk kontrak, ha-ha-ha…,” kata Djarot.
Jurus jitu. Puskesmas Bendo dulu dikunjungi 70-an pasien saban hari. Setelah kontrak diterapkan, puskesmas ini didatangi minimal seratus orang per hari. Kualitas kesehatan pun meningkat. Kini, model pelayanan di puskesmas Bendo menjadi standar rujukan pelayanan di Indonesia.
Djarot tak pernah bermimpi menarik investor besar untuk mendirikan pabrik berjejer-jejer di Blitar. Kalangan industri toh lebih memilih kawasan sekitar Surabaya. Maka ia lebih getol mendorong pertumbuhan usaha kecil. Saat ini sekitar 15 ribu usaha mikro-menengah hidup di kota berpenduduk 132 ribu jiwa ini.
Kota Blitar juga dikenal sebagai produsen kendang jimbe, yang tak hanya dijual ke Bali, tapi juga ke Prancis dan Afrika. Kendang ini badannya terbikin dari kayu bubut, ditutup kulit lembu, dan diikat dengan tali-temali.
Priyo Widigdo dari Bagian Pemasaran Paguyuban Perajin Bubut Kota Blitar menilai Djarot amat berperan membuka jalan pemasaran produk kerajinan Blitar. ”Kami banyak dibantu. Bisa berkonsultasi dengan Pak Wali Kota kapan pun,” kata Priyo.
Produk unggulan lainnya adalah belimbing. Pusatnya di Kelurahan Karangsari. Di kota ini tumbuh 28 ribu pohon belimbing yang menghasilkan 2.000 ton buah per tahun dan dijual hingga Jakarta. Sebagian belimbing juga diolah menjadi sirop dan dodol.
Belimbing telah menghidupi banyak orang. Supriadi Bagong, 38 tahun, misalnya, memiliki 70 pohon ini. Dari kebunnya itu ia beroleh pemasukan Rp 1,5 juta per bulan.
Djarot punya obsesi lain: memberantas kemiskinan dengan menggerakkan kebersamaan warga. Inspirasinya datang lima tahun lalu, saat meresmikan jembatan Sukorejo. Di tengah seremoni, ia terenyak menyaksikan sejumlah rumah berdinding gedek yang bolong-bolong.
Sejak itu, pemerintah kota mengucurkan uang insentif untuk memermak rumah warga yang tak layak huni. Nilainya Rp 4,5-7 juta per rumah. Masyarakat bergotong-royong menyumbang dan melaksanakan ”operasi bedah rumah” yang berbiaya Rp 15-20 jutaan tiap rumah. Kini, sudah 600-an rumah dibedah. ”Dua ratusan rumah menyusul,” kata Djarot.
Hari itu, Djarot mengakhiri perbincangan dengan ajakan minum kopi di warung Mbah Munawaroh, di samping Pasar Legi. Kopi di warung ini dijamin segar dan mantap. Simbah sendiri yang memilih biji kopi, menyangrai, dan menumbuknya. Tangan keriput nenek 75 tahun ini bekerja dengan lihai, menyajikan kopi tubruk yang harum dengan asap mengepul. Slurrp, hm, kopi yang nikmat. Djarot memuji Simbah, ”Panjenengan memang top, Mbah.”
Surabaya boleh sombong kalau soal gudangnya rujak cingur. Tapi soal
rasanya, ada demokratisasi selera di sini. Rujak cingur paling uenak
ada di Blitar. Kombinasi bumbunya pas, cingurnya uempuk. Cingur
merujuk pada kata congor, bahasa Jawa untuk mulut. Maksudnya congor
sapi. Aku kira juga lidah sapi kadang dipakai. Maka, rujak cingur
adalah persekutuan sayur tertentu, mentimun, tahu dan tempe goreng,
dan cingur. Mereka disatukan oleh ramuan petis, cabai, kacang tanah,
dan tentu saja sedikit gula plus garam. Ini lain sama sekali dengan
ketoprak ala Jakarta yang hambar. Habis rujak, minumlah jenang
grendul. Ia persekutuan antara santan, tepung beras, maizena, tepung
ketan, lalu gula merah, ketan hitam, dll. Kalau lagi di Blitar,
naiklah becak dari Dalem Gebang, rumah mendiang Bu Wardoyo, kakak
kandung Sukarno, ke arah barat. Lurus saja. Ongkosnya paling banter Rp
5.000. Tepatnya di Jl Sultan Agung 20. Hidup rujak congor, hidup
jenang/dawet grendul.
© Blogger templates The Professional Template by Ourblogtemplates.com 2008
Back to TOP